Patahkan Sekat

We Care, We Share, We Inspire

Patahkan Sekat

Toxic Positivity: Tidak Selamanya Positif Itu Baik

Toxic Positivity

oleh Dinda A. Y. Maqhriza, Rizki Aulia

editor Research Team

Mendengar kata positif dan negatif sedari kecil hingga dewasa ini kita diajarkan bahwa positif lebih baik daripada negatif. Padahal sejatinya segala sesuatu ada dan diciptakan untuk suatu alasan atau memiliki fungsi tersendiri, sehingga kita mencoba sebisa mungkin untuk menghindari hal-hal yang dianggap negatif dan berusaha melakukan ataupun merasakan segala sesuatu yang dinilai “positif”. Ditambah lagi banyak sekali kampanye atau kalimat tren yang beredar menyerukan positivitas seperti “positive vibes only, having positive attitude, no negativity here.” yang hanya akan memojokkan emosi negatif ini sekan-akan untuk menjadi individu yang baik, kita harus menekan segala hal ataupun perasaan negatif yang berada disekitar kita. Toxic Positivity adalah sebuah konsep yang mempercayai bahwa hidup harus dijalani dengan hal-hal yang positif saja dan menolak atau menghindari hal-hal yang berbau negatif (Lukin, 2019 Psychology Today).

Dua Jenis Emosi

Manusia pada umumnya memiliki dua jenis emosi, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Beberapa contoh emosi positif ialah; bahagia, kagum, dan bersemangat. Sedangkan emosi negatif contohnya sedih, marah, dan kecewa. Kedua jenis emosi tersebut mempunyai fungsinya tersendiri untuk keberlangsungan hidup manusia. Memiliki emosi negatif itu pada dasarnya merupakan hal yang wajar dalam hidup manusia dan tidak bisa dihilangkan atau dipendam begitu saja. Manson (2016) mengatakan bahwa sebuah usaha untuk melarikan diri dari hal negatif, seperti menghindari atau diabaikan hanya akan menjadi boomerang pada diri sendiri.

EMOTION MAKES US HUMAN.

DENYING THEM MAKES US BEAST.

Victoria Klein

Ketika seseorang mengalami pengalaman buruk atau menyakitkan, individu tersebut membutuhkan wadah atau tempat untuk mengekspresikan atau dikeluarkan untuk membuat dirinya merasa lebih baik seperti berbagi cerita dengan teman, orang tua dan sebagainya. Namun terkadang respon yang didapat tidak sesuai ekspektasi atau malah terkesan “memojokkan” sehingga membuat sebagian orang menjadi menutup diri dan tidak ingin lagi berbagi cerita kepada lingkungannya. Sebagian besar respon tersebut adalah respon “positif” atau kata-kata positif yang dianggap dapat membangun atau membuat seseorang menjadi lebih baik padahal hasil yang didapatkan adalah sebaliknya, itulah yang disebut toxic positivity.

Toxic Positivity di Keseharian

Menurut Quintero dan Long 2019 The Psychology Group, toxic positivity dibagi menjadi dua bagian, yaitu pelaku dan penerima toxic positivity. Berikut beberapa bentuk toxic positivity yang diberikan; mengenyampingkan perasaan orang lain dengan memberi “positive quote” dengan harapan untuk menghilangkan emosi negatif, memberi pandangan seperti “kamu belum seberapa, masih untung kamu, bisa aja loh kamu kena yang lebih parah dari ini, harusnya kamu bersyukur” dsb. Sedangkan output yang dirasakan oleh penerima toxic positivity adalah menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan (repressed), merasa bersalah akibat emosi negatif yang dirasakan lalu memilih untuk tidak melibatkan atau mengabaikan rmosi negatif itu dalam aktifitas sehari-hari.

Contoh beberapa kalimat toxic dan non-toxic dari The Psychology Group

Toxic PositivityNon-toxic (pernyataan penerimaan)
“Jangan mikir kaya gitu, postitive thinking aja!”“Coba dijelasin, aku siap untuk dengerin”
“Jangan sedih, berbahagialah!”“Aku paham kamu lagi menghadapi situasi sulit, ada yang bisa aku bantu?”
“Kegagalan bukan pilihan”“Kegagalan adalah bagian dari proses”
“Kalau aku bisa, kamu juga bisa”“Giliran, keterbatasan, kemampuan orang berbeda-beda dan itu tidak apa-apa”
“Jangan bersikap negatif”“Merasakan sakit adalah bagian dari hidup, kamu tidak sendirian”
“Ambil hikmahnya”“Aku paham yang kamu rasain, aku bakal disini buat kamu”
“Semua hal terjadi karena suatu alasan”“Bagaimana aku bisa membantumu dalam kesulitan ini?”
“Bisa aja lebih buruk dari ini, kamu harusnya bersyukur”“Wah pasti gak enak banget rasanya, maaf kamu harus ngerasain ini semua”

Harus bagaimana?

Agar kita tidak termasuk sebagai pelaku toxic positivity, alangkah baiknya kalau kita mendengarkan cerita atau mungkin menggali perasaannya tersebut dibandingkan dengan mengatakan hal yang mungkin saja membuat orang lain me-repressed emosi negatif yang dimilikinya. Di sisi lain, kita sebagai manusia juga sangat perlu untuk tetap merasakan emosi baik positif maupun negatif. Ada hari dimana kita merasa tidak baik-baik saja dan kita akan merasakan sedih, marah, takut, kecewa. Namun itu semua merupakan bentuk emosi yang sangat normal dan pasti akan dialami oleh siapapun. Hal yang perlu kita lakukan yaitu bagaimana kita agar mampu untuk mengelola, meluapkan serta melepaskan segala bentuk emosi tersebut dengan baik.

Nah, kalau memang kalian mau memberikan sebuah dukungan yang lebih menguatkan bisa dilakukan dengan melakukan validasi dan pemberian harapan. Pertama yaitu harus melakukan validasi atas perasaan yang dimiliki, lalu memberikan dukungan dalam bentuk harapan.

Contoh beberapa kalimat toxic positivity dan validation and hope dari Withney Goodman

Toxic PositivityValidation and Hope
“Kamu pasti bisa!“Aku tahu ini sulit. Tapi kamu sudah melalui semua hal berat ini. Aku percaya padamu!”
“Udahlah jangan mikir negatif terus”“Normal kok buat punya pikiran negatif di situasi yang seperti ini”
Bahagia aja!”“Ini gak mudah emang buat merasakan itu. Tapi apa ada hal yang bisa kita lakukan supaya kamu senang hari ini?”
“Lihat sisi positifnya”“Mungkin emang berat untuk mencari sisi positifnya saat ini. Kita bisa melakukannya nanti”
“Tetap semangat ya!”“Kadang memang menyerah itu gapapa kok. Apa hasil yang ideal menurutmu ?”

 CONSTANT POSITIVITY IS A FORM OF AVOIDANCE

IT’S OK TO HAVE A NEGATIVE EMOTIONS

Shannon Fiorenza

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *