Patahkan Sekat

We Care, We Share, We Inspire

Patahkan Sekat

#PatahkanSekat dalam Bersosial

Patahkan Sekat

oleh Rustiningsih Dian Puspita

Editor: Rizki Aulia

Kesehatan mental menjadi isu yang banyak dibahas oleh sebagian masyarakat belakangan ini. Bahkan tak jarang juga yang mendiagnosis dan mengklaim bahwa dirinya sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Dilansir dari Tirto.id (2018), Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyatakan bahwa terjadi kenaikan masalah kesehatan jiwa pada tahun 2018 dengan rincian  peningkatan sebesar 0,03 persen pada orang gangguan jiwa berat (skizofrenia/psikosis).

Stigmatisasi

Di masyarakat masih banyak stigma negatif yang disematkan kepada para penderita gangguan mental.  Stigma tersebut tentu dapat membuat mental seseorang menjadi semakin down dan dapat mengarah pada tindakan yang fatal atau membahayakan. Tidak mudah untuk menghapus stigma negatif yang disematkan pada orang dengan gangguan kesehatan mental. Kurangnya literasi mengenai kesehatan mental seperti penyebab, gejala, hingga cara untuk menanganinya menjadi salah  satu faktor sulitnya menghapus stigma tersebut. Corrigan dalam Soebiantoro (2017, h. 2) mengelompokkan stigma menjadi dua  komponen yaitu stigma sosial dan stigma individu. Stigma sosial merupakan pandangan atau reaksi negatif dari masyarakat pada penderita gangguan jiwa. Lain halnya dengan stigma individu yang mampu mengakibatkan turunnya rasa percaya diri dan harga diri (self-worth dan self-esteem).

IT IS NOT OUR DIFFERENCES THAT

DIVIDE US. IT IS OUR INABILITY

TO RECOGNIZE, ACCEPT, AND CELEBRATE

THOSE DIFFERENCES

BELAJAR UNTUK #PATAHKANSEKAT

Berikut ini beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghapus stigma negatif yang sering disematkan pada orang-orang yang memiliki gangguan mental :

  1. Memperbanyak literasi mengenai kesehatan mental

Hobson (Soebiantoro, 2017, h. 5) menyatakan bahwa edukasi mengenai kesehatan mental dapat menurunkan stigma pribadi dan sosial secara signifikan menurut statistik. Artinya, dengan memiliki pengetahuan mengenai kesehatan mental, kita tidak mudah untuk memberi stigma negatif pada orang-orang yang memiliki gangguan dengan kesehatan mental mereka. Justru kita bisa membantu dan memotivasi mereka.

2. Menciptakan lingkungan positif

Keluarga adalah lingkungan yang terdekat dengan kita. Sudah seharusnya keluarga memberikan dukungan bagi orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan mental. Jangan sampai keluarga menjadi lingkungan yang toxic dengan menebar energi negatif yang justru menjatuhkan mental kita. Tak hanya keluarga, teman-teman di sekitar juga turut andil dalam memberikan energi positif yang mendukung dan peduli dengan kita.

3. Menanamkan mindset bahwa berkunjung ke ahli kesehatan mental itu hal normal

Masih banyak orang-orang yang menganggap bahwa berkunjung ke psikiater atau psikolog menandakan bahwa orang tersebut memiliki gangguan jiwa. Pola pikir seperti ini justru membuat kita menjadi enggan untuk berkonsultasi pada ahli kesehatan mental. Kita menjadi tidak memiliki teman untuk bercerita, memendam semuanya sendiri sehingga menjadi stress.

4. Sharing mengenai kesehatan mental

Dilansir dari Liputan6.com (2015, 3 Maret), semakin sering kita berbicara dengan orang lain tentang masalah kejiwaan, maka semakin berkurang pula stigma negatif bahwa penyakit kejiwaan bukan sesuatu yang menyimpang. Dengan demikian, kita akan merasa bahwa kita tidak hidup sendiri karena memiliki tempat untuk bercerita.

Dengan menerapkan empat hal di atas, diharapkan kita dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan stigma negatif pada orang-orang yang memiliki gangguan mental. Serta tidak menganggap remeh masalah kesehatan mental yang justru dapat berakibat fatal jika kita mengabaikan itu. Hal yang perlu ditanamkan pada mindset kita adalah bahwa kesehatan mental bukanlah tembok pembatas untuk bersosial.

EVERYONE YOU MEET IS

FIGHTING A BATTLE YOU

KNOW NOTHING ABOUT.

BE KIND. ALWAYS.

Daftar Pustaka

https://www.liputan6.com/health/read/2184300/5-cara-melawan-stigma-penyakit-kejiwaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *