Patahkan Sekat

We Care, We Share, We Inspire

Patahkan Sekat

Dikotomi Kendali selama Masa Pandemi

Dikotomi Kendali selama Masa Pandemi

Sejak awal Maret 2020, Indonesia ramai dengan masalah Covid-19. Kita sebagai masyarakat juga merasakan ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Terhitung hampir lima bulan kita hidup dikelilingi virus tersebut, namun sudah sekitar satu bulan pemerintah mengumumkan akan ada kebijakan baru disebut “new normal” atau dalam bahasa Indonesia disebut kenormalan baru. Sebenarnya apa makna dari kenormalan baru ini? Apakah artinya kita bebas kemanapun setelah terkurung lama dalam rumah?

New Normal

Kita perlu memahami kembali bahwa kenormalan baru merupakan suatu fase dimana kita perlu beradaptasi dengan perilaku baru, jadi bukan lantas virus tersebut telah hilang dan kita keluar rumah dengan mengabaikan protokol kesehatan. Adaptasi perilaku baru seperti menggunakan masker, cuci tangan dan physical distancing sudah harus menjadi perilaku yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lain dari hal tersebut, masih adakah yang merasakan marah dan cemas ketika melihat angka positif Covid-19 naik kembali ? Atau ada yang masih takut untuk keluar rumah ? Tidak apa, wajar jika ada perasaan marah dan cemas di situasi yang tidak normal ini. Namun kita perlu menyadari kembali, sampai kapan kita berada dalam fase tersebut ? Sudah seharusnya kita kembali sehat secara mental pada masa new normal ini.

Dikotomi Kendali

Ada yang pernah dengar filsafat stoisme yang dikenal dengan dikotomi kendali ? Bahwa dalam hidup ada yang bisa kita kendalikan namun ada yang tidak bisa kita kendalikan. Terhadap sesuatu hal yang berada di luar kendali, kita perlu kita pahami bahwa hal tersebut bukan kuasa kita untuk merubah atau menghentikannya. Sehingga kita perlu mengurangi untuk terlalu fokus memikirkan hal tersebut yang justru akan membuat kita makin cemas atau takut.
Dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring disebutkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dan ada hal – hal yang bisa kita kendalikan, antara lain:

Tidak Bisa dikendalikan Bisa dikendalikan

Tindakan orang lain (kecuali ia berada di bawah ancaman kita)
Ketika melihat orang lain tidak mematuhi protokol kesehatan, kita akan merasa geram dan marah dengan kondisi tersebut. Namun setelah kita berusaha mengingatkan dan orang tersebut mengabaikannya, kita perlu mengatakan pada diri kita sendiri “kita bisa mengingatkan namun kita tidak mampu mengubah perilaku orang tersebut”.

Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri
Misalnya dalam kasus pandemic covid-19 ini, situasi saat ini memang bukan kendali kita, namun mematuhi protokol kesehatan seperti masker, mencuci tangan dan physical distancing merupakan sesuatu hal yang bisa kita kendalikan.

Opini orang lain

Kesehatan kita setelah kita berusaha menjaganya presepsi kita. Ketika diawal pandemic ini kita masih menyesuaikan dengan keadaan yang berubah secara cepat seperti belajar jadi daring dll. Namun kita bisa mempresepsikan kondisi kenormalan baru ini menjadi langkah awal untuk bangkit dan menyusun rencana yang disesuikan dengan keadaan untuk diri kita sendiri. Situasi pandemi Covid-19 ini juga sesuatu diluar pikiran dan tindakan kita

Untuk segala hal yang berada diluar kendali kita, terkadang kita hanya bisa menerima saja. Sedangkan untuk hal-hal yang masih berada di bawah kendali kita, masih ada hal yang dapat kita lakukan. Kita masih bisa menyusun, merencanakan atau merubahnya karena diri kita sendiri yang mengendalikan atau memilih. Yuk kita mulai mengusahakan apa yang ada di bawah kendali diri kita. Mulailah perubahan baik dari diri kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  • Manampiring, Henry. 2019. Filosofi Teras: Filsafat Yunani – Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *