Patahkan Sekat

We Care, We Share, We Inspire

Patahkan Sekat

Sebaran Data Kesehatan Jiwa di Indonesia

Oleh: Dinda An’nisa Younfa, Putri Hafisyah, Rizki Aulia, Rafa Yusranti Multazam

Dikutip dari laman Tirto.id, berdasarkan data dari Riskesdas pada tahun 2013, provinsi yang memiliki tingkat prevalensi gangguan jiwa berat (psikosis/skizofrenia) adalah Aceh dan D.I. Yogyakarta, yakni dengan skor 2,7. Hal ini menunjukkan bahwa ada 2,7 kasus dalam 1.000 penduduk per mil.

Data Riskesdas pada tahun 2018 menunjukkan bahwa lima provinsi yang memiliki tingkat prevalensi gangguan mental emosional tinggi :

  1. Sulawesi Tengah
  2. Gorontalo
  3. NTT
  4. Banten
  5. Maluku Utara

Berikut ini prevalensi depresi menurut provinsi dengan lima peringkat teratas :

  1. Sulawesi Tengah
  2. Gorontalo
  3. NTT
  4. Maluku Utara
  5. NTB

Berikut data statistik prevalensi depresi menurut Riskesdas pada tahun 2018:

SEBARAN DATA KESEHATAN JIWA DI INDONESIA

 

BEDASARKAN STATUS EKONOMI

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan Fibriana pada tahun 2016 di wilayah kerja Puskesmas Pati II, didapatkan sampel yang memiliki status sosio-ekonomi rendah sebanyak 39 orang (62,9%), sedangkan sampel yang memiliki status sosio-ekonomi tinggi yaitu 23 orang (37,1%).  Sampel dengan status sosio-ekonomi rendah memiliki faktor resiko 3,657 kali untuk terkena skizofrenia dibandingkan dengan sampel berstatus sosio-ekonomi tinggi. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hawari (2012:27) dalam Wahyudi dan Fibriana (2016) bahwa apabila kondisi sosio-ekonomi tidak tercukupi maka hal tersebut dapat membuat seseorang tertekan dan saat ketahanan mental seseorang tidak dapat menahannya maka dapat memicu individu tersebut timbul penyakit skizofrenia. Hasil serupa juga didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Erlina (2010) dalam Wahyudi dan Fibriani (2016) yaitu penderita skizofrenia yang memiliki status ekonomi rendah adalah 86,7% lebih banyak dari status ekonomi tinggi yaitu 13,3. Status ekonomi rendah beresiko 6,0 kali mengalami skizofrenia.

BERDASARKAN JENIS KELAMIN

Mengutip dari intothelight.org, penelitian yang dilakukan oleh Peltzer dan Pengpid (2008) menemukan bahwa 21,8% orang melaporkan gejala depresi sedang atau berat, dengan prevalensi tingkat gejala depresi yang tinggi dimiliki oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Dari keseluruhan partisipan, 21,4% laki-laki dan 22,3% perempuan melaporkan gejala depresi sedang atau berat. Dari prevalensi tersebut diketahui bahwa kelompok remaja perempuan berusia 15-19 tahun memiliki prevalensi gejala depresi tertinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, yaitu sebanyak 32% melaporkan gejala depresi sedang atau berat. Sementara itu, pada partisipan laki-laki, kelompok dengan usia  20-29 tahun menunjukkan prevalensi gejala depresi sedang atau berat tertinggi (29%) disusul remaja laki-laki (26,6%). Prevalensi gangguan mental emosional didominasi oleh jenis kelamin perempuan dengan usia di atas 65 tahun, atau usia lanjut. Indonesia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang tingkat bunuh diri tertingginya terjadi pada perempuan, yaitu dengan prevalensi 4,9 orang per 100.000 penduduk. Sedangkan pada laki-laki yaitu sebesar 3,7 orang per 100.000 penduduk

PREVALENSI GANGGUAN PSIKOLOGIS 2020

Memasuki akhir dekade pada tahun 2020 seluruh warga dunia dihadapkan dengan pandemi COVID-19 dengan penyebaran virus yang sangat mudah dan cepat. WHO dan pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan baru kepada seluruh warga dunia untuk melakukan karantina terhadap diri sendiri dengan tetap berada dirumah saja sampai waktu yang tidak ditentukan. Hal ini memberikan dampak besar dalam banyak aspek. Putusnya kontak fisik dan hampir seluruh aktivitas harus dilakukan secara online. Seluruh media pun dipenuhi dengan informasi mengenai virus corona ini sendiri, dimulai dari gejala hingga angka pasien COVID-19 yang terus meningkat. Akibatnya, protokol kesehatan dan informasi dari media ini maka timbul dampak psikologis pada seluruh masyarakat.

Walaupun sejatinya wabah covid-19 ini tidak menyerang secara psikologis, namun dampaknya sangat besar. Khususnya di Indonesia sendiri, menurut PDKSJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa) yaitu berdasarkan swaperiksa web terhitung per 14 Mei 2020, 69% dari 2.364 responden menderita gangguan psikologis seperti cemas, depresi maupun trauma psikologis  (Tan, 2020).

Hal tersebut muncul akibat  beberapa faktor diantaranya yaitu keharusan untuk menjaga jarak dan terpisah sehingga masyarakat harus beradaptasi dengan ketetapan “new normal”, melihat berita atau kejadian kurang menyenangkan akibat pandemi yang sedang terjadi, hingga kekhawatiran akan terjangkit covid-19 itu sendiri. Terhitung semenjak Mei 2020 dipercaya angka penderita gangguan psikologis akan semakin bertambah namun bukan diakibatkan kecemasan akan covid-19, melainkan dampak dari protokol kesehatan “new normal” yang menyarankan masyarakat untuk menjaga jarak dan menghindari kontak fisik. Karena hal itu, banyak lapangan pekerjaan dan perusahaan-perusahaan yang tidak bisa mengikuti protokol baru ini terpaksa melakukan PHK kepada para pekerja dan terjadi resesi ekonomi yang menimbulkan stress pada masyarakat yang terkena dampak tersebut. Jika tidak segera mendapat penanganan yang sesuai, maka dapat beresiko besar mengalami gangguan kejiwaan.

DAFTAR PUSTAKA:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *