Patahkan Sekat

We Care, We Share, We Inspire

Patahkan Sekat

STIGMA PADA ODGJ (ORANG DENGAN GANGUAN JIWA)

Menjadi orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ merupakan sebuah hal yang cukup berat untuk dihadapi seseorang, namun sayangnya menjadi ODGJ juga diikuti dengan beban stigma negatif sosial, seolah menjadi ODGJ saja belum cukup berat. Definisi STIGMA sendiri menurut KBBI adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Dapat dikatakan stigma sosial sendiri merupakan suatu pandangan negatif seseorang terhadap satu individu atau kelompok akibat kekurangan/disabilitas yang dimiliki.

Hasil penilitian mengenai “Stigma terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa di Indonesia” menujukkan bahwa pemahaman yang baik mengenai kesehatan mental memiliki pengaruh signifikan terhadap rendahnya stigma negatif masyarakat terhadap penyandang gangguan jiwa.

 

Menurut Corrigan & Watson (2002), stigma dibagi menjadi dua bagian:

 

STIGMA PUBLIK

STIGMA DIRI

 

STEREOTYPE

Pandangan negatif terhadap suatu kelompok (ketidakmampuan, kekurangan/kelemahan suatu karakter) Pandangan negatif terhadap diri sendiri (karakter, kelemahan dan ketidakmampuan diri)
 

PRASANGKA/ANGGAPAN

Membenarkan suatu reaksi emosional yang negatif  (marah, takut) Membenarkan suatu reaksi emosional yang negatif  (rendahnya harga diri/self-esteem dan rendahnya efikasi diri)
 

DISKRIMINASI

Respon perilaku terhadap prasangka (menghindari, mengucilkan, meneriaki dsb) Respon perilaku terhadap prasangka (gagal dalam mencapai tujuan ataupun kemampuan untuk memberdayakan diri sendiri)

 

Akibatnya, banyak ODGJ khususnya di Indonesia sendiri terkucilkan dan tidak mendapat penanganan yang seharusnya. Masih banyak ODGJ yang terlantar bahkan parahnya di daerah terpencil masih terdapat ODGJ mengalami diskriminasi seperti dipasung dengan tujuan untuk melindungi penyandang gangguan jiwa dari dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini sangat umum terjadi di Indonesia, tercatat dalam laporan nasional riskesdas 2018 terdapat 2.238 kasus pemasungan padahal dengan penganganan dan pengawasan yang tepat ODGJ dapat memiliki kualitas hidup lebih baik dan hidup mandiri.

 

MITOS VS FAKTA

STIGMA GANGGUAN JIWA

Mitos

Fakta

Orang dengan gangguan jiwa tidak bisa sembuh. Gangguan jiwa mungkin tidak dapat disembuhkan, namun banyak ODGJ yang masih bisa bekerja, berkeluarga dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Orang dengan gangguan jiwa cenderung melakukan kekerasan dan cenderung menunjukkan perilaku yang tidak terduga. Sebagian besar ODGJ tidak melakukan kekerasan bahkan mereka lebih cenderung menjadi korban kekerasan.
Penyandang gangguan jiwa harus diisolasi dari lingkungan. Dengan penanganan ahli professional seperti psikiater dan psikolog ODGJ dapat menjalani hidup yang baik tanpa harus diisolasi.

 

DAFTAR PUSTAKA:

  • Corrigan. P. W. dan Watson. A. C. (2002) . Understanding The Impact of Stigma on People with Mental Illness. World Psychiatry. Vol. 1(1). Hal. 16-20.
  • Hartini. N., Fardana. N. A., Ariana. A. D., dan Wardana. N. D. (2018). Stigma toward People with Mental Health Problems in Indonesia. Psychology Research and Behavior Management. Vol. 11. Hal. 535-541.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2020). Stigma. Diakses dari : https://kbbi.web.id/stigma. Pada Tanggal 27 September 2020. Pukul : 21.44 WIB.
  • Myths and Facts. (2020). Diakses dari : https://www.time-to-change.org.uk/about-mental-health/myths-facts. Pada Tanggal 28 September 2020. Pukul : 00.36 WIB.
  • Tim Riskedas. (2019). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *