ISU KESEHATAN MENTAL DI MASA PANDEMI COVID-19 DAN KEDEPANNYA

Ditulis oleh: Aisha A.

Sudah setahun lebih berlalu semenjak wabah COVID-19 melanda seluruh negara, tidak terkecuali negara Indonesia. Hingga akhir Juli 2021, terdapat  3.409.658 kasus COVID-19 yang terdata di Indonesia dengan tingkat kematian sebanyak 92.311 jiwa. Hingga hari ini, data statistik menunjukkan tingkat kasus fluktuatif di Indonesia.  Belum lagi, berbagai varian COVID-19 yang terus bertambah dan lebih beresiko dari sebelumnya. Mulai dari COVID-19 Alpha, hingga Delta yang dikabarkan memiliki penularan yang tinggi yaitu 97%. 

 

Sebagai akibatnya, perubahan pola hidup memaksa masyarakat untuk terus beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi. Bukan hanya kesehatan fisik, namun banyak sektor lain yang terdampak pandemi COVID-19 ini, salah satunya adalah kesehatan mental.

 

Apa itu kesehatan mental? Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan mental adalah kondisi dimana seseorang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, memahami kemampuannya, dan mampu produktif. Beberapa penelitian dari tahun 2020 menunjukkan wabah COVID-19 berdampak pada kesehatan mental. 

 

Sebuah penelitian menunjukkan sebanyak 40% dari responden mengalami distress berat dan ringan akibat pandemi. Menurut Nasrullah dan Sulaiman (2021), terdapat resiko depresi dan trauma yang terjadi akibat situasi pandemi ini, meliputi resesi ekonomi, pembatasan mobilitas, serta stress. Pandemi COVID-19 ini jelas berdampak bagi seluruh lapisan masyarakat seperti pelajar dan anggota keluarga korban COVID-19. 

 

Kesehatan Mental di Masa Pandemi pada Pelajar

Menurut Tjahjana, Dwidienawati, Manurung, & Gandasari (2021), pembatasan mobilitas akibat pandemi berdampak pada well-being, terutama bagi siswa sekolah. Siswa terpaksa harus melakukan sekolah online dan membatasi pertemuannya dengan teman-teman yang lain. 

 

Padahal, masa SMP dan SMA adalah fase ketika mereka memiliki kebutuhan untuk bersosial dengan rekannya dan mengembangkan perannya dalam lingkungan sosial. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka siswa tersebut kemungkinan akan mengalami kebingungan memahami perannya dalam lingkungan sosial. 

 

Bukan hanya itu, pandemi juga menyebabkan meningkatnya siswa yang kecanduan gawai. Kecanduan tersebut merupakan salah satu akibat dari penggunaan internet yang meningkat, kehilangan teman di dunia nyata, dan pembatasan mobilitas memaksa siswa untuk lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Menurut survey, terdapat 104 pasien dengan rentang usia 9 sampai 15 tahun yang dirawat di RSJ Jabar akibat kecanduan gawai. 

 

Kesehatan Mental di Masa Pandemi pada Anggota Keluarga Korban

Selain itu juga, tidak dipungkiri akan ada dampak kesehatan mental bagi anggota keluarga korban. Setiap pasien dan korban yang meninggal akibat COVID-19 harus ditangani dengan protokol yang ketat. 

 

Salah satunya adalah larangan keluarga untuk menjenguk dan merawat korban tersebut. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa akan adanya PGD atau Prolonged Grief Disorder yang lebih tinggi pada anggota keluarga korban yang meninggal akibat COVID-19 (Tang & Xiang, 2021). 

 

Apa itu PGD? PGD adalah kesedihan yang lama dengan ciri-ciri kerinduan yang dalam dengan keluarga yang telah meninggal, terus berpikir tentang anggota keluarga yang telah meninggal, diikuti dengan perasaan emosional yang intens seperti kesedihan, marah, denial, dan kesusahan untuk menerima kematian orang tersebut.

 

Jadi, Bagaimana Kedepannya? 

Setelah satu tahun lebih berlalu, masih banyak fenomena pandemi yang masih perlu dikaji seperti desensitasi pandemi COVID-19, pola hidup, penelitian jangka panjang mengenai perkembangan anak yang berkembang di masa pandemi, dan sebagainya. Dengan adanya data dan penelitian tersebut kita bisa lebih paham dan sadar mengenai dampak pandemi COVID-19 terhadap kesehatan mental. 

 

Lalu, bagaimana kedepannya nanti? Apakah akan ada dampak pasca pandemi nanti? Terdapat banyak kemungkinan dan tantangan kesehatan mental pada masa akan datang. Pandemi ini menyadarkan pentingnya kesiapan kita untuk menghadapi krisis lainnya. Kemampuan adaptif, resiliensi, dan coping stress yang baik merupakan salah satu kemampuan yang membantu kita menghadapi masa kritis.

 

 

Sumber: 

  1. Assifa, F. (2021, March 23). RSJ Jabar Tangani RATUSAN Anak Kecanduan Gawai akibat Pandemi Covid-19. KOMPAS.com. https://regional.kompas.com/read/2021/03/23/110805678/rsj-jabar-tangani-ratusan-anak-kecanduan-gawai-akibat-pandemi-covid-19.
  2. Margianto, H. (2020, August 29). Covid-19, Resesi Ekonomi, dan Perubahan Budaya Kerja Halaman all – Kompas.com. KOMPAS.Com. https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/29/181520165/covid-19-resesi-ekonomi-dan-perubahan-budaya-kerja?page=all
  3. N. Nasrullah, and L. Sulaiman, “Analisis Pengaruh Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Masyarakat Di Indonesia,” MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA, vol. 20, no. 3, pp. 206-211, Jun. 2021. https://doi.org/10.14710/mkmi.20.3.206-211
  4. Post, T. J. (2020, October 8). Mental health services disrupted in 93% of countries during COVID-19 pandemic: WHO. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/news/2020/10/08/mental-health-services-disrupted-in-93-of-countries-during-covid-19-pandemic-who.html
  5. Respati, T., Irasanti, S. N., Sartika, D., Akbar, I. B., & Marzo, R. R. (2021). A nationwide survey of psychological distress among Indonesian residents during the COVID-19 pandemic. International Journal of Public Health Science, 10(1), 119–126. https://doi.org/10.11591/ijphs.v10i1.20609
  6. T. (2021, June 25). 97 Persen Lebih Menular, Covid-19 Varian Delta Terbukti Paling Agresif. Tempo. https://tekno.tempo.co/read/1475949/97-persen-lebih-menular-covid-19-varian-delta-terbukti-paling-agresif
  7. Tang, S., Xiang, Z. Who suffered most after deaths due to COVID-19? Prevalence and correlates of prolonged grief disorder in COVID-19 related bereaved adults. Global Health 17, 19 (2021). https://doi.org/10.1186/s12992-021-00669-5
  8. TJAHJANA, D., DWIDIENAWATI, D., MANURUNG, A. H., & GANDASARI, D. (2021). Does people’s wellbeing get impacted by covid-19 pandemic measure in indonesia? Estudios de Economia Aplicada, 39(4). https://doi.org/10.25115/eea.v39i4.4873

Leave a Reply