STRESS DAN COPING STRESS DI MASA PANDEMI COVID-19

Oleh : Nadia

         Saat ini negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, sedang dilanda pandemi Covid-19. Akhir tahun 2019 merupakan momen yang mengejutkan bagi setiap negara di dunia. Virus ini muncul pertama kali di Indonesia pada 02 Maret 2020 dengan dinyatakannya 2 pasien positif Covid-19 (Jamil dan Aprisanda, 2020). Sejak diumumkannya kasus pertama, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara yang terpapar virus Corona atau Covid-19. Setelah ditetapkannya Indonesia sebagai negara yang terinfeksi Covid-19, kegiatan yang bersifat mengumpulkan dan tatap muka dihentikan sementara sampai waktu yang belum. Selain itu, pemerintah juga membuat sebuah kebijakan yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar atau disebut juga PSBB. 

       Banyak orang yang terkejut karena belum terbiasa dengan perubahan yang diberikan oleh pemerintah. Perubahan ini berdampak pada psikologis seseorang sehingga membuat  stres. Stres yang tidak dapat dikendalikan atau diatasi oleh seseorang dapat memengaruhi pikiran, emosi, reaksi fisik, dan perilaku. Secara kognitif, seseorang dapat mengalami kesulitan fokus, pikiran negatif tentang diri sendiri dan lingkungan, menyebabkan kecemasan, sensitif, kesedihan, kemarahan, dan frustrasi.

 

        Stres yang sedang dialami oleh seseorang dapat diatasi dengan melakukan coping stress strategies atau disebut juga dengan manajemen stres.

 

Stress

      Stress adalah salah satu fenomena dalam kehidupan. Menurut Monat dan Lazarus (dalam Safaria, 2005), stres merupakan segala kejadian atau peristiwa berupa tuntutan-tuntutan lingkungan (eksternal) maupun tuntutan-tuntutan yang berasal dari diri sendiri (internal) yang bersifat fisiologis atau psikologis yang membebani individu. Lazarus (dalam Taylor, 2006:194) menjelaskan bahwa stres merupakan sebuah pengalaman yang dihasilkan dari proses kognitif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres merupakan kekacauan atau gangguan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar;ketegangan. Respon stres pada setiap orang pasti berbeda-beda. Menurut penelitian yang dilaksanakan oleh Wahyuni (2017), respon stres dapat berupa perilaku menghindari tugas, sulit tidur, menarik diri, sulit makan, dan tidur terus. Dilihat secara fisiologis, respon stres dapat berupa jantung berdebar, keringat dingin, panas, tekanan darah tinggi, sakit perut, pusing, dan cepat lelah. Sedangkan bila dilihat dari respon psikologis, stres dapat berbentuk depresi, kecewa, frustasi, merasa bersalah, bingung, takut, tidak berdaya, tidak termotivasi, gelisah, dan cemas (Wahyudi, 2017). Seperti penjelasan dari Anoraga (1992:117), stres adalah suatu tanggapan individu baik secara fisik maupun mental terhadap suatu perubahan lingkungan yang dirasa mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam.

 

           Menurut Gibson (1996:339), stres merupakan suatu tanggapan penyesuaian, diperantarai oleh perbedaan-perbedaan individual atau proses-proses psikologis, akibat dari setiap tindakan lingkungan, situasi dan kondisi yang menetapkan permintaan psikologis maupun fisik berlebihan kepada seseorang. Menurut uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu keadaan individu yang mengalami tekanan karena individu dihadapkan pada suatu kejadian yang dianggap sebagai ancaman terhadap fisik dan mental mereka,  baik kondisi internal maupun eksternal yang menuntut penyesuaian dari individu.

Sumber atau penyebab stres merupakan faktor penekan yang memiliki potensi menciptakan stres. Sarafino (Smet 1994:114) membedakan sumber-sumber stres, yaitu:

 

  1. Dari diri sendiri

       Terkadang sumber stres itu ada di dalam diri sendiri, salah satunya melalui  pikiran. Tingkatan stres yang muncul bergantung pada pikiran yang mereka keluarkan. Semakin negatif pikiran yang mereka keluarkan, maka semakin tinggi pula tingkat stres yang dihasilkan. Stres juga dapat muncul melalui penyakit dan tingkat stres yang muncul tergantung rasa sakit yang dirasakan. 

       2. Dari keluarga 

           Stres dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti perselisihan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan yang berbeda, kehilangan orang yang dicintai, dan lain-lain.

        3. Dari komunitas dan lingkungan

          Interaksi di luar lingkungan keluarga juga termasuk dari sumber stres, seperti tempat kerja, sekolah, dan lain-lain.

 

        Seseorang yang mengalami stres ketika menjalankan PSBB bisa melakukan strategi coping stress untuk mengurangi tingkat stres yang sedang dirasakan. Coping stress dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti berolahraga, bermain game, mendengarkan musik, menonton film, dan lain sebagainya. Kegiatan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya stress yang sedang dialami, serta jenis strategi coping stress yang disukai. 

 

Coping Stress

             Coping stress adalah kemampuan mengelola dan mengatasi stres. Menurut Lazarus (1984), coping merupakan strategi manajemen tingkah laku kepada pemecahan masalah yang paling sederhana dan realistis, berfungsi untuk membebaskan diri dari masalah nyata maupun tidak nyata. Coping juga merupakan usaha secara kognitif untuk mengatasi, mengurangi, dan tahan terhadap tuntutan-tuntutan. Strategi coping stress menunjuk berbagai upaya baik perilaku maupun mental, untuk menoleransi, menguasai, mengurangi, dan meminimalisasikan kejadian atau situasi yang penuh dengan tekanan. Dengan kata lain, coping stress merupakan suatu proses ketika individu melakukan usaha untuk menangani stres yang sedang ia hadapi dengan cara perubahan kognitif serta perilaku agar memperoleh rasa aman dalam dirinya. 

 

        Coping stress merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki setiap orang, terutama pada situasi yang tidak mereka sukai. Ada beberapa hal mendasar yang perlu dikuasai oleh individu sebelum menguasai keterampilan coping stress, yaitu keterampilan untuk peka terhadap perasaan dan respon psikologis serta peristiwa tertentu.

 

              Terdapat dua jenis strategi coping stress, yaitu:

         1. Problem Solving Coping

             Individu bertindak aktif melakukan alternatif penyelesaian masalah dengan cara menghilangkan situasi dan kondisi yang menyebabkan stres.

           Disebutkan bahwa strategi coping stress manusia dilakukan secara sadar  dengan cara yang digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:

    • Problem Solving

                Kita mengalahkan stres dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat stres). Misalnya, seseorang stres karena menderita suatu penyakit, maka ia bisa mengatasi stres tersebut dengan cara berobat sehingga penyakit yang ia rasakan sembuh.

    • Avoidance 

       Dengan teknik ini seseorang menghindar dari orang lain dengan cara menonton TV lebih banyak dari sebelumnya atau tidur lebih sering, dan lain sebagainya untuk menghilangkan rasa stres yang ia rasakan.

    • Seeking of Social Support

               Dengan teknik ini seseorang menghadapi stres dengan cara pergi mencari orang lain, menceritakan dan memercayakan masalahnya kepada orang yang ia percaya untuk kemudian mendapatkan solusi atas rasa stres yang ia alami.

 

          2. Emotion Focused Coping

       Individu berusaha mengatur emosinya untuk menyesuaikan diri dengan dampak yang disebabkan oleh situasi dan kondisi yang menimbulkan stres. 

 

 

 

 

 

 

Sumber: 

  • Amiruddin, J. H. (2013). Pengaruh hardiness dan coping stress terhadap tingkat stres pada kadet akademi TNI-AL (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).
  • Darmawanti, I. (2012). Hubungan antara tingkat religiusitas dengan kemampuan dalam mengatasi stres (coping stress). Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 2(2), 102-107.
  • Sampel, A. P. BAB III METODE PENELITIAN. Sumber, 2(5.510)
  • Winarto, W. (2008). Faktor–Faktor Yang Menimbulkan Stress Kerja Dan Coping Stress (Studi Pada Pegawai UPTD Terminal Bunder Gresik) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Gresik)

Leave a Reply