Gangguan Kejiwaan, Seberapa Pahamkah Kamu?

Oleh: Avifa Khairunisa

Terkadang saat melihat orang yang berperilaku aneh, kita sering menganggap orang tersebut sedang stres. Padahal, stres juga dapat menjadi salah satu gejala atau ciri-ciri gangguan kejiwaan.

Menurut dokter spesialis kejiwaan dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, Tjhin Wiguna, stres merupakan ungkapan awam yang merujuk pada gangguan jiwa. Namun faktanya, stres adalah tekanan yang membuat orang harus beradaptasi dalam menghadapinya untuk tetap bertahan hidup. Menurutnya, seseorang yang tidak dapat mengelola stres dengan baik dapat memicu gangguan kejiwaan.

Sakit jiwa adalah gangguan mental yang memengaruhi suasana hati, pola pikir, hingga tingkah laku secara umum. Seseorang bisa disebut sakit jiwa jika gejala yang dialami membuatnya tertekan dan tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.

Apa saja ciri-ciri gangguan kejiwaan? Secara umum, orang yang mengalami gangguan jiwa dapat dikenali dari beberapa gejala berikut ini:

  • Perubahan mood secara drastis. Contohnya dari sangat sedih menjadi sangat gembira, atau sebaliknya dalam waktu yang singkat
  • Perasaan takut yang berlebihan
  • Gangguan tidur
  • Mengisolasi diri dari kehidupan sosial
  • Emosional, tidak dapat mengendalikan amarah hingga bertindak kekerasan
  • Sulit fokus, mengingat, atau berpikir logis.
  • Mengalami delusi
  • Jika sudah parah, penderita dapat mengalami gangguan pola pikir seperti paranoid, halusinasi, dan tidak dapat membedakan antara halu dan realita
  • Gangguan fisik seperti sakit kepala, nyeri punggung, sakit perut, atau nyeri lain tanpa sebab yang tidak diketahui.

 

Ternyata, gangguan jiwa dapat timbul dari skala ringan hingga berat. Salah satu contoh gangguan jiwa ringan adalah depresi yang tidak terlalu berat, dengan gejala perilaku seperti murung, tidak bersemangat, hingga panik.

 

Sedangkan, depresi yang disertai dengan menurunnya kemampuan berpikir, kognitif, psikomotorik, kecemasan berlebih akan masa depan, hingga psikotik yang sudah tidak mampu membedakan imajinasi dengan realitas termasuk dalam gangguan jiwa berat.

Penting sekali untuk menghadapi stres dengan benar, karena stres merupakan pemicu awal depresi. Sehingga dapat dipahami bahwa stres bukanlah gangguan melainkan sebuah kondisi.

Sebenarnya, ada banyak kondisi kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai sakit jiwa. Berikut ini adalah beberapa jenis gangguan jiwa:

  1. Gangguan kecemasan: berupa rasa takut, fobia, kecemasan sosial, hingga gangguan panik
  2. Gangguan kepribadian: seperti antisosial atau paranoid
  3. Gangguan afektif/mood: umumnya berupa gangguan bipolar dan depresi
  4. Ketidakmampuan mengontrol keinginan: kleptomania, kecanduan minuman keras, dan obat-obatan terlarang
  5. Gangguan psikotik: gejala berupa halusinasi dan delusi
  6. Gangguan pola makan: contohnya anoreksia, bulimia, dan binge eating
  7. Gangguan obsesif-kompulsif/OCD
  8. Gangguan pascatrauma/PTSD
  9. Sindrom respon stress atau gangguan penyesuaian
  10. Gangguan disosiatif/kepribadian ganda: gangguan parah pada identitas, ingatan, serta kesadaran akan diri sendiri dan lingkungannya
  11. Gangguan seksual dan gender: gangguan identitas gender, gairah dan perilaku seksual
  12. Gangguan somatoform: Merasa nyeri pada anggota tubuh yang sebenarnya tidak ada gangguan medis apapun pada tubuhnya

Apakah gangguan jiwa dapat diobati? Tentu saja bisa! Seberat apapun gangguan jiwa, terapi yang tepat akan membimbing pasien untuk dapat kembali normal. Terdapat dua jenis terapi, yaitu terapi dengan obat-obatan dan psikoterapi.

Terapi yang disertai obat-obatan ditujukan kepada pasien gangguan jiwa dengan ketidakseimbangan senyawa kimia di otak, disebut juga dengan neurotransmitter. Obat-obatan yang diberikan dapat berupa antipsikotik, antidepresi, dan anticemas.

Selain pemberian obat-obatan, biasanya pasien juga akan mendapatkan psikoterapi atau konseling yang bertujuan untuk memulihkan kejiwaan pasien. 

terapi dapat juga berupa stimulasi otak untuk menangani gangguan mental atau depresi hingga perawatan di rumah sakit jiwa.

Selain perawatan secara medis, ada faktor yang sangat penting dalam pemulihan penderita gangguan jiwa, yaitu dukungan keluarga. Keluarga yang suportif tentunya dapat memberi semangat pada penderita untuk dapat kembali beraktivitas normal seperti semula.

“They key is in accepting your thoughts, all of them, even the bad ones. Accept thoughts, but don’t become them.”
Reasons to Stay Alive by Matt Haig

Terlepas dari itu semua, hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah menghindari self-diagnose. Daripada kamu berasumsi sendiri mengenai kondisi kejiwaan kamu, lebih baik berkonsultasi dengan dokter untuk membantu mengatasi masalah yang kamu alami.

Jika ada orang di sekitarmu yang mengalami kesulitan, bantulah mereka dengan memberi dukungan berupa kehadiranmu atau merekomendasikan terapi demi pemulihan mereka.

Semoga artikel ini dapat membantu pemahamanmu mengenai gangguan kejiwaan, ya. Jangan ragu, jangan takut, jangan segan untuk mendukung kesehatan jiwa. Percayalah, di luar sana ada orang-orang yang mengerti apa yang kamu rasakan.

 

 

 

Sumber:

  • https://nationalgeographic.grid.id/read/13303595/membedakan-stres-dengan-gangguan-jiwa-2
  • https://www.alodokter.com/sakit-jiwa-ternyata-ada-banyak
  • https://www.alodokter.com/tanda-kamu-mengalami-gangguan-jiwa

Leave a Reply