Pathological Liar: Kebiasaan Berbohong Tak Terkendali

Oleh : Rona Jinan Editor: Anggi Andarini Ritonga

Sumber: everydayhealth.com


 Pernah mendengar istilah Mythomania? Pseudologia Fantastic? atau Pathological  Liar?  Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terbiasa melakukan kebohongan secara terencana. Tidak  hanya sesekali, seseorang dengan pathological liar kerap berbohong tanpa alasan yang jelas. Kebohongan yang diceritakan cenderung membuat agar pembohong  tampak menonjol, menutupi kesalahan yang mereka perbuat, dan kepentingan pribadi lainnya.


 Istilah kebohongan patologis pertama kali diungkapkan dalam dunia kedokteran oleh Anton Delbrueck pada tahun 1981. Ia mendefinisikan kebohongan patologis sebagai bentuk pemalsuan yang terkadang tidak rasional, diniatkan tanpa sebab yang jelas, bersifat ekstensif dan sangat rumit, dan  muncul dalam periode menahun atau bahkan seumur hidup. Meskipun hal ini telah dipelajari selama lebih dari satu abad, terkadang pathological liar masih sulit dibedakan dengan compulsive liar. Beberapa ahli kejiwaan bahkan menganggap kedua hal tersebut sama.


 Sebuah studi (2007) menunjukkan bahwa gangguan pada sistem saraf pusat mempengaruhi seseorang untuk berbohong secara patologis. Kebohongan kompulsif juga dapat menjadi indikasi adanya gangguan psikologis lain seperti Borderline personality disorder (BPD), narcissistic personality disorder (NPD) dan antisocial personality disorder (APD). Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh trauma masa kecil, penyalahgunaan obat-obatan, ketidakseimbangan hormon, hingga depresi.


 Garret et al. (2016) mengungkapkan bahwa semakin banyak hal tidak benar yang  diceritakan seseorang, maka kebohongan akan lebih mudah dan sering terjadi, hal tersebut  terjadi dalam otak kita ketika berbohong. Kepentingan pribadi juga merupakan pemicu  ketidakjujuran. Meski penelitian ini tidak melihat secara rinci tentang pathological liar,  namun hal ini cukup menjelaskan alasan pembohong patologis untuk membuat kebohongan secara terus menerus.


 Bagaimana cara mengenali seseorang dengan Pathological Liar?

Dilansir dari healthline.com beberapa ciri-ciri pathological liar diantaranya kebohongan mereka tidak memiliki  manfaat yang obyektif, cerita yang cenderung sangat detail dan  penuh warna, Mereka juga seringkali menggambarkan dirinya sebagai korban atau pahlawan, hal ini  dilakukan agar mereka mendapat kekaguman atau simpati dari pihak lain. Mereka tidak menyadari dirinya sedang berbohong, bahkan di suatu keadaan mereka mempercayai  kebohongan yang dibuat oleh dirinya sendiri.


 Salah satu contoh dari kebohongan patologis adalah mereka mengatakan bahwa mereka  memiliki suatu penyakit serius, hal ini dilakukan untuk menarik simpati. Contoh lainnya ialah  mereka menceritakan sesuatu yang tampak heroik atau mengatakan bahwa mereka memiliki  hubungan dengan orang orang terkenal. Hal ini dilakukan agar mereka dipandang lebih hebat.  Namun mereka seringkali memiliki alur cerita yang berbeda dari cerita yang sama, dikarenakan  melupakan detail yang sebelumnya. Mereka juga menjawab pertanyaan dengan cepat dan  cenderung rumit, namun sebenarnya jawaban tersebut tidak menjawab pertanyaan yang  diajukan.


 Secara klinis, pathological liar masih sulit untuk didiagnosa. Psikiater atau dokter biasanya akan menggunakan metode wawancara dengan yang bersangkutan dan orang terdekatnya untuk mengidentifikasi pola kebohongan patologisnya. Hingga saat ini, pengobatan untuk pathological liar melibatkan psikoterapi atau pengobatan, karena seringkali didampingi dengan diagnosa gangguan kepribadian lain. Dokter juga akan menyarankan  terapi kepada orang-orang terdekat dari individu tersebut, tujuannya untuk membantu  mereka mengelola tanggapan dalam menghadapi individu dengan pathological liar.


Bagaimana cara menghadapi orang dengan Pathological Liar?

Beberapa hal yang bisa dilakukan ketika berhadapan dengan pathological liar adalah pertama, menjadi suportif tetapi tegas, artinya disini kita harus dapat  memposisikan diri dengan tidak memotong atau membantah kebohongan tersebut. Kedua, ketika dalam percakapan dan mengetahui seseorang tersebut terus menerus berbohong, ada  baiknya jika kita memperlihatkan ketidaknyamanan kita sehingga orang tersebut akan berhenti  atau mengalihkan topik. Terakhir, adalah dengan menyarankan bantuan medis. Tanpa  mempermalukan mereka, sarankan agar mereka mempertimbangkan bantuan profesional dan  meyakinkan mereka bahwa hal ini juga untuk kebaikan mereka. 

Leave a Reply